Head to head : Murder on the Orient Express 1974 vs 2017

review film murder on the orient express
EMI Films, 20th Century Fox

Sinema drama crime, review head to head film 
Murder on the Orient Express versi 1974 vs 2017.

Film dan kereta api! Merupakan perpaduan yang paling mengasyikan dalam hidup saya untuk bisa menikmatinya.

Murder on the Orient Express (1934) adalah sebuah novel karya Agatha Christie yang ironisnya telah saya baca, jauh sebelum menonton adaptasi filmnya yang dirilis tahun 1974.

Kisahnya berupa investigasi seorang detektif bernama Hercule Poirot, terhadap pembunuhan di dalam kereta api, begitu menarik sekaligus memuaskan saya.

Baca juga: Knives Out (2019) : Film 'Whodunit' Bertendensi Politik Identitas

Film produksi Inggris dengan ensembel cast legendaris di masanya, memang memiliki banyak keunggulan sehingga sukses secara komersil maupun dipuji kritikus. 

Lalu saya terkejut ketika di tahun 2017 dibuatkan adaptasi versi kedua, antusiasime kembali muncul setelah menyaksikan trailer-nya.

Murder on the Orient Express versi ‘74 adalah versi adaptasi yang lebih setia dari cerita novelnya itu sendiri, dan hanya ada perubahan terhadap beberapa nama karakternya.


Film itu disutradarai oleh Sidney Lumet, sineas jempolan peraih nominasi Oscar, meski akhirnya ia dianugerahi Honorary Award di ajang yang sama atas prestasinya.

Versi ‘74 juga diperankan para artis legendaris seperti Albert Finney, Lauren Bacall, Ingrid Bergman, Jacqueline Bisset, Sean Connery, Vanessa Redgrave, hingga Anthony Perkins.

Sedangkan versi 2017 disutradarai oleh Kenneth Branagh yang memiliki prestasi tak kalah menterengnya dengan Lumet. 

FIlm itu sekaligus dibintangi oleh dirinya, selain Michelle Pfeiffer, Johnny Depp, Judi Dench, Penélope Cruz, Willem Dafoe hingga Daisy Ridley. 

Tak ketinggalan, Ridley Scott pun turut berperan sebagai produser.

Cerita dalam kedua versi film itu jelas sama dengan novelnya, yakni: 

Hercule Poirot berada dalam kereta Orient Express dari Istanbul menuju London dengan berinteraksi dengan sejumlah karakter penumpang lainnya.

Pada suatu lokasi kereta terpaksa berhenti karena jalurnya terhalang tumpukan salju, Ratchett tewas dibunuh di dalam kereta.

Pembunuhan Ratchett terkait dengan penculikan dan pembunuhan Daisy Amstrong, serta Poirot menyelidiki sekaligus mengungkap siapa pembunuh Ratchett.

Meski kedua versi film tersebut memiliki alur cerita yang sama, namun versi 2017 mengambil sudut pandang yang berbeda. 

Perbedaannya yakni beberapa nama karakter penumpang kereta, adegan aksi serta adanya sentuhan twist yang cukup mengejutkan, meski akhirnya kurang berkesan.

head to head murder on the orient express
EMI Films, 20th Century Fox

Murder on the Orient Express 2017 saat di awal cerita, terdapat sub-plot yang menceritakan Poirot mengeksekusi kasus hilangnya benda bersejarah di sebuah Gereja di Yerusalem. 

Menurut saya, hal tersebut tidak perlu dilakukan, mengingat terbuangnya porsi terhadap eksploitasi kepada beberapa karakter penumpang di kereta Orient Express.

Kualitas perbedaan lainnya dalam kedua versi tersebut, terletak pada akting dan penampilan terhadap figurnya masing-masing. 

Versi 2017 tampaknya terlalu fokus pada diri dari Poirot itu sendiri, hingga kurang memberi ruang optimal terhadap karakter lainnya. 

Selain itu, adegan interogasi Poirot dengan semua penumpang di kereta, tidak secara diperlihatkan secara utuh dan tuntas satu-persatu, seperti halnya di versi ’74 serta novelnya.

Seingat saya, berbagai sampul novelnya sendiri, figur Hercule Poirot digambarkan memiliki rambut hitam kelimis dengan kumis tebal dengan bentuknya yang khas.

Penggambaran tersebut yakni di kedua ujung kumis Poirot agak melengkung keatas, persis seperti yang diperlihatkan di versi ’74.

Sedangkan di versi 2017. Poirot memiliki kumis yang teramat panjang dengan campuran uban atau berwarna putih. 

Baca juga: Gosford Park (2001) : Drama Pembunuhan Sang Industrialis

Karakterisasi Poirot dalam 
Murder on the Orient Express ’74 menurut saya lebih tepat, terutama dari mimik dan gaya, serta aksen Perancis-nya yang kental.

Poirot adalah sosok berkebangsaan Belgia. Versi 2017 terlalu serius untuk menjadi seorang Poirot yang memaksakan kewibawaannya.

Malah saya lebih bersimpati pada versi ’74, meski awalnya terkesan lucu dan cupu, namun sungguh cerdas dan elegan.

Selain figur Poirot, juga ada Mrs. Hubbard yang diperankan Lauren Bacall di versi ’74 jelas lebih berkarisma dibandingkan Michelle Pfeiffer di versi 2017. 

Ada apa gerangan, hingga Pfeiffer kurang bisa menggugah empati saya? 

Paling hanya di akhir cerita saja, itupun karena dukungan dari scoring musik dan lagu yang dinyanyikan olehnya di kredit penutup.

Judi Dench sebagai Princess Dragomiroff 
versi 2017 pun, kalah mentereng dari Wendy Hiller versi ’74 yang terkesan agak creepy dengan gaya bicara ala bangsawan lanjut usia.

Apalagi asistennya, Hildegarde Schmidt versi ‘74, menunjukkan sebagai seorang wanita Jerman yang angkuh dan ketus, jauh sekali dibandingkan dengan versi 2017.

Justru yang menonjol di versi 2017 adalah akting Josh Gad sebagai Hector MacQueen pada saat ditekan dan diinterogasi oleh Poirot, didramatisir dengan baik. 

Meski Anthony Perkins di versi ’74 juga berakting sangat baik sekaligus misterius yang tampaknya memiliki aura sama di film Psycho (1960).

film murder on the orient express orisinal vs remake
EMI Films, 20th Century Fox

Seperti biasa, penampilan Johnny Depp sebagai Ratchett di versi 2017 sudah tak diragukan lagi aktingnya. 

Jika boleh dibilang, perbandingannya dengan figur Ratchett yang diperankan Richard Widmark di versi ’74 bernilai sama.

Selain itu, sadarkah anda bahwa penampilan Willem Dafoe sebagai Profesor Gerhard Hardman versi 2017 sepertinya tak lebih dari pelengkap saja? 

Yang terdahsyat tentu saja Ingrid Bergman sebagai Greta Ohlsson di versi ’74!

Ia bermain sangat brilian, sebagai seseorang yang sangat religius dan jiwanya seperti campuran antara orang paranoid atau kerasukan sesuatu.

Wajar jika dirinya diganjar Oscar kala itu, kontras ketika saya menikmati aktingnya di film Casablanca (1942). 

Bandingkan dengan Penélope Cruz yang di versi 2017 yang tenggelam entah kemana, membuat saya ingin melewati saja.

Sedikit perbedaan cerita ada pada bumbu adegan aksi di versi 2017, yakni tembakan pistol yang mengarah kepada Poirot. 

Dengan adanya dialog setelah adegan tersebut, terkesan seakan Poirot dianggap tidak mampu memecahkan kasus pembunuhan Ratchett.

Juga melalui animasi CGI berlebihan, ketika salju longsor dengan jarak sangat dekat. Logikanya salju tersebut bisa menghantam kereta, bukan menghalangi jalur kereta tepat di depannya.

Baca juga: Top 10 Film Kereta Api : Thriller/Horor/Komedi

Secara visual jelas Murder on the Orient Express 2017 lebih unggul meski manipulatif.

Contohnya, adegan kapal laut melintasi keindahan kota Istanbul atau kereta Orient Express melaju meninggalkan Stasiun Istanbul, melintasi beberapa latar berupa pemandangan indah. 

Jika versi ’74 memang seadanya, maka versi 2017 penuh dengan keindahan warna, terutama pada saat matarahri terbit atau tenggelam, seperti dalam The Polar Express (2004).

Tertolong oleh scoring dramatis, versi 2017 mampu menggugah emosi saya yang mengiringi beberapa adegan memilukan. 

Puncaknya, ketika lagu Never Forget yang dinyanyikan Pfeiffer dalam kredit penutup, menyambungkan alunan denting piano di akhir cerita. 

Suara merdunya mengingatkan saya akan penampilannya di film The Fabulous Baker Boys (1989).

Secara keseluruhan, 
Murder on the Orient Express ’74 lebih unggul dikarenakan esensi yang dikandung hampir sama dengan novelnya. 

Versi 2017 malah terkesan seperti mengadaptasi ke dalam bentuk novel grafis atau bahkan komik.

Bagi generasi yang lebih muda, terlebih bagi yang belum pernah baca novelnya, mungkin cenderung menyukai versi 2017.

Gaya penuturan versi tersebut terkesan lebih segar meski ada sedikit modifikasi, namun dikhawatirkan malah akan menurunkan nilai dari karakter Hercule Poirot itu sendiri.

Bagi yang penasaran ingin menonton versi ’74, siap-siap bakal ngantuk, karena didominasi oleh dialog yang tampaknya membosankan, serta tidak adanya adegan aksi laga. 

Tapi jangan salah, justru semakin natural malah apa adanya atas segala kekurangan efek canggih di kala itu. 

Aura thriller dan suspensnya malah lebih terasa.

Genre film : Drama, Suspens, Thriller

Versi 1974 | Score: 4 / 4 stars | Pemain: Albert Finney, Lauren Bacall, Martin Balsam, Ingrid Bergman, Jacquelin Bisset, Jean-Pierre Cassel, Sean Connery, John Gielgud, Wendy Hiller, Anthony Perkins, Vanessa Redgrave, Rachel Roberts, Richard Widmark, Michael York | Sutradara: Sidney Lumet | Produser: John Brabourne, Richard B. Goodwin | Naskah: Paul Dehn | Musik: Richard Rodney Bennett | Sinematografi: Geoffrey Unsworth | Distributor: EMI Films | Negara: Inggris | Durasi: 131 Menit

Versi 2017 | Score: 2.5 / 4 stars | Pemain: Kenneth Brannagh, Penélope Cruz, Willem Dafoe, Judi Dench, Johnny Depp, Josh Gad, Derek Jacobi, Leslie Odom Jr, Michelle Pfeiffer, Daisy Ridley | Sutradara: Kenneth Brannagh | Produser: Ridley Scott, Mark Gordon, Simon Kinberg, Kenneth Brannagh, Judy Hofflund, Michael Schaffer | Naskah: Michael Green | Musik: Patrick Doyle | Sinematografi: Harris Zambarloukos | Distributor: 20th Century Fox | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 114 Menit

Demikian sinema drama crime, review head to head film Murder on the Orient Express versi 1974 vs 2017.

Comments